Hukum Transplantasi Organ dalam Islam


Pengertian transplantasi

Transplantasi adalah pemindahan organ tubuh dari orang sehat atau mayat yang organ tubuhnya mempunyai daya hidup dan sehat kepada tubuh orang lain yang memiliki organ tubuh yang tidak berfungsi lagi sehingga resipien (penerima organ tubuh) dapat bertahan hidup secara sehat.

Islam memerintahkan agar setiap penyakit diobati. Dan transplantasi organ merupakan salah satu cara untuk mengobati penyakit. Allah juga memerintahkan kita untuk saling tolong-menolong sesama manusia, asalkan dalam menolong orang lain tersebut tidak membahayakan diri kita sendiri. Seperti yang tercantum dalam beberapa ayat di bawah ini :

 

وَلاَتَـقْـتُـلُوْا اَنْـفُسَهُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ( النسآء : 29 )

“… dan janganlah kamu membunuh dirimu ! Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa 4: 29)

 

تَعَـاوَ نُـوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ( المـائـدة : 2 )

“Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah 5 :2)

وَلاَ تُـلْـقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ( البقرة : 195 )
“…dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah 2: 195)

Hukum transplantasi organ

Donor organ tubuh, seperti yang difatwakan oleh Mufti Azhar, Syeh Jadulhaq Ali Jadul Haq, tanggal 5 Desember 1979 memperbolehkan donor anggota tubuh dengan ketentuan sbb:

  1. Apabila tidak membahayakan penyumbang donor.
  2. Donor ayng diberikan setelah meninggal, harus dengan wasiat yang menjelaskan donor tersebut dan atau seizin ahli waris.
  3. Tidak dihalalkan meminta imbalan, artinya donor diberikan dengan sukarela dan tabarru’ (demi kebaikan dan menolong orang yang sakit), karena memperjual belikan anggota tubuh manusia adalah haram. Dengan demikian, tidak diperbolehkan meminta imbalan.

Landasan yang digunakan dalam masalah ini adalah asas maslahah, oleh karena itu batas diperbolehkannya donor juga sejauh kemaslahatan dapat terwujud. Masalahat yang dimaksud adalah maslahat agama dan kemanusiaan. Donor yang tidak mendatangkan maslahat atau yang justru mendatangkan madlarat dan kerugian, tidak diperbolehkan.
(Fatawa Azhariyah) Fatwa Lajnah Fatwa Azhar, No. 1323.

 

Transplantasi organ ketika masih hidup

Yang dimaksud disini adalah donor anggota tubuh bagi siapa saja yang memerlukan pada saat si donor masih hidup. Donor semacam ini hukumnya boleh. Karena Allah Swt memperbolehkan memberikan pengampunan terhadap qisash maupun diyat.

Allah Swt berfirman:

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (TQS al-Baqarah [2]: 178)

Namun, donor seperti ini dibolehkan dengan syarat. Yaitu, donor tersebut tidak mengakibatkan kematian si pendonor. Misalnya, dia mendonorkan jantung, limpha atau paru-parunya. Hal ini akan mengakibatkan kematian pada diri si pendonor. Padahal manusia tidak boleh membunuh dirinya, atau membiarkan orang lain membunuh dirinya; meski dengan kerelaannya.

Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu. (TQS an-Nisa [4]: 29).

Selanjutnya Allah Swt berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS al-An’am [6]: 151)

Sebagaimana tidak bolehnya manusia mendonorkan anggota tubuhnya yang dapat mengakibatkan terjadinya pencampur-adukan nasab atau keturunan. Misalnya, donor testis bagi pria atau donor indung telur bagi perempuan. Sungguh Islam telah melarang untuk menisbahkan dirinya pada selain bapak maupun ibunya.

Allah Swt berfirman:

Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. (TQS al-Mujadilah [58]: 2)

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang menasabkan dirinya pada selain bapaknya, atau mengurus sesuatu yang bukan urusannya maka atas orang tersebut adalah laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia”.

Sebagaiman sabda Nabi saw:

Barang siapa yang dipanggil dengan (nama) selain bapaknya maka surga haram atasnya”

Begitu pula dinyatakan oleh beliau saw:

Wanita manapun yang telah mamasukkan nasabnya pada suatu kaum padahal bukan bagian dari kaum tersebut maka dia terputus dari Allah, dia tidak akan masuk surga; dan laki-laki manapun yang menolak anaknya padahal dia mengetahui (bahwa anak tersebut anaknya) maka Allah menghijab Diri-Nya dari laki-laki tersebut, dan Allah akan menelanjangi (aibnya) dihadapan orang-orang yang terdahulu maupun yang kemudian”.

Adapun donor kedua testis maupun kedua indung telur, hal tersebut akan mengakibatkan kemandulan; tentu hal ini bertentangan dengan perintah Islam untuk memelihara keturunan.

Transplantasi organ yang dilakukan setelah mati

Transplantasi setelah berakhirnya kehidupan hukumnya berbeda dengan donor ketika (si pendonor) masih hidup. Setelah kematiannya, manusia telah keluar dari kepemilikan serta ekuasaannya terhadap semua hal; baik harta, tubuh, maupun strinya. Dengan demikian, dia tidak lagi memiliki hak terhadap tubuhnya. Maka ketika dia memberikan wasiat untuk mendonorkan sebagian anggota tubuhnya, berarti dia telah mengatur sesuatu yang bukan haknya. Jadi dia tidak lagi diperbolehkan untuk mendonorkan tubuhnya. Dengan sendirinya wasiatnya dalam hal itu juga tidak sah. Dengan demikian manusia tidak diperbolehkan memberikan wasiat dengan mendonorkan sebagian anggota tubuhnya setelah dia mati.

Rasulullah saw bersabda:

“Mematahkan tulang orang yang telah mati sama hukumnya dengan memotong tulangnya ketika ia masih hidup”.

Rasulullah saw melarang untuk merampas dan menyakiti (si mati). Memang benar bahwa melampaui batas terhadap orang mati dengan melukai atau memotong atau bahkan memecahkan (tulang) tidak ada jaminan (diyat) sebagaimana ketika dia masih hidup. Akan tetapi jelas bahwa melampaui batas terhadap jasad si mati atau menyakitinya dengan cara mengambil anggota tubuhnya adalah haram; dan haramnya bersifat pasti (qath’i).

Dengan demikian maka tidak diperbolehkan melakukan tranplantasi organ dari seseorang yang telah mati; sementara dia terpelihara darahnya–baik muslim, kafir dzimmi, mu’ahid maupun musta’min—pada orang lain yang kehidupannya tergantung pada (keberhasilan) tranplantasi organ tersebut.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

About Me



 

Nama Lengkap : Dwi Jayanti Meiana Dewi

Nama Panggilan : Dj / Dewi

TTL : Purbalingga 15 Mei 1992

Alamat Rumah : Sidanegara RT 01 RW 06, Kaligondang, Purbalingga, Jawa Tengah

Alamat Sekarang : Perum Abdi Negara Blok H4 No. 16

RT 04 RW 24, Bandung, 40394

Yang lain-lain menyusul atau bisa ditanyakan langsung

hehe ^_^

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment

Filed under Uncategorized